Showing posts with label Supply and Demand. Show all posts
Showing posts with label Supply and Demand. Show all posts

Saturday, February 25, 2012

Trading Breakot

Dalam trading salah satu entry yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan breakout sebagai titik entry. Breakout ini bisa saja terjadi saat meninggalkan area konsolidasi, support, resistance, scalping line, fibo level dll. Untuk mudahnya kita buat analogi sebuah padang rumput (chart) dengan sekawanan banteng (gerak harga) yang berlarian kesana kemari. Sekarang bayangkan bahwa terdapat sebuah pagar dihadapan kawanan banteng tersebut. Pagar ini representasi dari level support/resistance, fibo, pivot, dan lain sebagainya. Saat harga mendekati level-level ini pada chart banyak kemungkinan yang kan terjadi. Namun umumnya tiga hal yang mungkin terjadi:

Hard Barrier (Pagar Yang Kokoh)



Bayangkan sekawanan banteng ngamuk berlarian di padang rumput mendekati pagar yang ada. Tiap langkah membawa mereka mendekati pagar, dan akhirnya menabrak pagar tersebut. Tapi tak satupun banteng yang dapat melewati pagar ini, mereka berhasil mendekati pagar namun tidak cukup kuat untuk melewatinya. Sekuat tenaga mereka coba melewatinya tapi tetap tidak mampu.


Sekarang ganti banteng dengan harga, pagar dengan level support sebagai contoh saja. Berarti saat itu level support bertindak sebagai pagar yang kokoh menghalagi harga untuk bergerak lebih jauh. Jadi harga berhasil mendekati level support, kadang perlahan kadang cepat, namun tidak dapat menembusnya. Bisa saja mendorong level ini (pagar) satu pip atau dua pips tetapi harga benar-benar tidak dapat tembus garis pertahanan support. Hal ini sering terjadi, dan mengakibatkan harga berbalik arah. Pada situasi macam ini, jelas anda tidak ingin untuk melakukan entry breakout.

Barrier Break

Sekali lagi bayangkan sekawanan banteng yang berlarian di padang rumput mendekati pagar yang ada. Semakin mereka mendekati pagar, makin cepat dan cepat gerak langkah yang diayunkan. Akhirnya saat tiba di pagar WOINGGG kawanan banteng terbang melompatinya dengan mudah!!! Seakan-akan pagar tersebut tidak pernah ada dan mereka terus berlari kencang.

Sekali lagi ganti banteng dengan harga, pagar dengan level support sebagai contoh saja. Kini level support tidak dapat menahan laju harga. Harga menembus dengan kencang dan terus melaju seperti tidak ada penghalang sama sekali. Pada situasi inilah titik optimal untuk melakukan entry breakout, karena kita sedang saksikan momentum kuat yang mengiringi harga, this is a perfect place to enter a trade .


Barrier Trickle

Kembali kita ketemu dengan kawanan banteng yang berlarian mendekati pagar. Mereka bisa berlari dengan cepat atau lambat, bukan hal penting. Saat mendekati pagar, mereka tidak dapat melompatinya!!! Banteng-banteng ini mundur selangkah dua langkah dan akan mencoba lompat lagi. Mereka lakukan hal ini beberapa kali, dan beberapa ekor banteng ini berhasil lompat pagar tersebut. Termotivasi karena melihat beberapa kawannya sukses lompat keseberang, banteng yang lain ingin mencoba juga hingga akhirnya seluruh banteng berhasil melakukan lompatan.
Pada situasi ini level support mampu menahan gempuran awal dari gerak harga. Namun secara perlahan tapi pasti harga mampu menembus pertahanan support beberapa pips. Bisa saja setelah tembus harga mundur sedikit, tapi ia akan bergerak mencoba menembus lebih banyak ruang lagi, hingga akhirnya membentuk momentum yang kuat dan menembus level support secara utuh.
Barrier trickle adalah situasi yang paling sering terjadi, dimana anda akan temukan dibanyak tempat pada chart ketika harga mengalami kesulitan dalam melewati sebuah level (fib, pivot, s/r dll). Namun, dengan sedikit tambahan waktu harga mengumpulkan momentum yang diperlukan untuk menembus garis pertahanan.

Jika menemukan situasi macam ini, anda dapat mempertimbangkan untuk melakukan entry breakout. Namun sebaiknya mempertimbangkan pula apa yang disebut sebagai Price Reliability. Harga itu tidak sempurna, katakan kita memiliki level support di 1.3500 dan harga berada dekat level tersebut. Saat harga hit 1.3500 dan tidak mampu menembusnya, ia akan mencoba beberapa kali. Jika misalnya tembus 1 pip ke 1.3499, maka jangan cepat berasumsi bahwa level pertahanan tersebut telah terpatahkan. Di broker anda mungkin tertera 1.3499, tapi broker yang lain bisa jadi masih di 1.3504 (5 pips lebih tinggi).

Harga tidak sama diantara broker, jadi jangan terburu-buru entry saat harga break. Kuncinya adalah mengamatinya secara penuh dan membiarkan harga menuntun anda beberapa saat setelah break. Harga akan memberi tahu anda dengan cara menunjukan reaksinya di level-level tersebut, apakah akan break secara utuh atau akan berbalik arah. Jika perlu melihat price action lebih dekat, anda bisa pindah dari frame H4 ke M15 atau M5. Jika anda melihat kawanan banteng yang berlarian mendekati pagar dari puncak bukit, mungkin banteng-banteng tersebut terlihat seperti semut-semut kecil. Tapi jika anda berdiri disamping pagar, anda dapat melihat kelakuan mereka satu per satu saat mendekati pagar.

Jadi kesimpulannya adalah tidak melakukan entry secara instant saat breakout, namun analisa dan putuskan apa yang sedang harga lakukan. Secara realistis memang anda hanya memiliki sedikit waktu dalam analisa ini, jadi memang perlu pengalaman namun makin lama anda mengamati price action makin paham anda akan perilaku harga.



Monday, December 26, 2011

Refreshment

Dinamika pasar adalah hasil resultante dari psikologi massa. Kita bisa menghasilkan uang karena mampu menguasai aspek ini. Sebagaimana yang sudah banyak diketahui, trading itu 90% adalah masalah mental. Winning lebih banyak ditentukan oleh bagaimana anda mempersiapkan mental dibanding teknik/gaya trading. Dan memahami cara orang lain berpikir dan mengambil keputusan justru lebih penting daripada memahami chart. Jika anda masih mengalami kendala dalam trading, mungkin sudah saatnya anda merubah fokus perhatian. Daripada hanya mengubah-ubah teknik, sebaiknya fokus kepada faktor penyebab utamanya. Terdapat beberapa perbedaan yang sangat jelas antara winning trader dan lossing trader.

Trader Pemula
1. Cenderung mengikuti orang banyak/massa (crowd follower)
  • Mengikuti apa yang orang lain kerjakan (ikut-ikutan)
  • Nyaman jika keputusannya sama dengan orang banyak
2. Menghindari resiko kecuali orang lain juga mengambilnya
3. Mengira jika orang lain "buy" maka aman juga untuk "buy"
4. Bertindak atas advis dari orang lain yang dianggap "expert"
5. Cenderung membuat complicated proses trading dan mengabaikan kesederhanaan pasar
6. Hampir selalu membuat dua kesalahan yang sama: buy/sell saat harga telah bergerak jauh secara signifikan (high risk) serta buy saat mendekati resistance dan jual saat mendekati support (low probability).

Trader Pro
  1. Mengambil inisiatif (lead the crowd)
  2. Eliminasi semua subjective noise yang menghalangi proses pengambilan keputusan. Mereka tidak peduli pada apa yang dilakukan orang lain dan membuat keputusan berdasarkan seperangkat rule yang sangat mekanikal dan tidak terbawa emosi
  3. Mereka belajar untuk mengidentifikasi entry yang benar (proper entry) yang mana kebanyakan orang tidak memperhatikannya
  4. Mereka sell setelah suatu periode buying berjalan mendekati/masuk area resistance. Mereka jual Greed (tamak), ini untuk yang trading selain forex.
  5. Mereka buy setelah suatu periode selling berjalan mendekati/masuk area support. Mereka beli Fear (ketakutan)
  6. Trader yang sukses:
  • Dapat identifikasi peluang sebelum orang lain melakukannya
  • Eksekusi trading secara mekanikal

Karakter Mental Yang Harus Dimiliki
  1. Percaya Diri
  2. Disiplin
  3. Sabar

Sunday, December 25, 2011

The Wild

"inilah saatnya dimana keseimbangan alami berubah, sang pemangsa menjadi yang dimangsa, the hunter becomes the prey"....adegan ini memberi saya ide untuk menulis bagaimana area supply berubah menjadi demand dan sebaliknya. Secara sederhana saya coba tunjukan identifikasi perubahan tersebut, dimana yang ingin kita lihat adalah ciri-ciri yang ditunjukan oleh gerak harga.

Umumnya harga meninggalkan suatu level dengan dua cara:
  1. Strong moves, harga bergerak dengan cepat (candle body tinggi). Ini menunjukan bagaimana, misalnya dalam up moves, buyer berusaha memberi tekanan dengan volume tinggi untuk men trigger buy order yang ada pada area S/D atau stop loss yang umumnya diletakan diatasnya. Dengan demikian makin bertambah kecepatan gerak harga.
  2. Gradual moves, secara perlahan-lahan (candle body pendek). Hal ini mencerminkan bahwa baik pasokan permintaan dan penawaran tidak jauh berbeda. Dan masih ada keraguan diantara buyer dan seller dalam komitmen mengambil posisi
The Bubka Jumping (Strong Moves)
Sergei Bubka adalah legenda loncat galah yang saya kagumi, dia contoh sempurna seorang atlet. Dan teknik loncat nya dapat diaplikasikan dalam identifikasi perubahan sebuah area S/D.
Setelah untuk beberapa saat harga dalam konsolidasi yang ditunjukan oleh deretan candle dalam batas area di antara 2 garis datar, mulai kita lihat ada pergeseran supply dan demand:
  • Breakout (A)
  • Pullback (B), retest yang makin menguatkan bahwa area ini adalah area supply
  • Bubka Jump (C), harga bergerak dengan cepat menerobos balik area supply dengan cirinya yang mudah dikenali yakni high volume candle atau candle dengan body yang tinggi.
  • Pullback (D), retest area S/D, yg disusul oleh candle yang meninggalkan area ini dan mengkonfirmasi bahwa saat it
    • u area supply telah berubah menjadi demand.
    Entry untuk contoh di atas dapat dilakukan pada:
    • A, breakout entry untuk sell
    • B, pullback entry untuk sell
    • E, pullback entry untuk buy
    TP adalah next level support atau resistance dengan profit zone yang memadai atau cukup lebar. Sementara SL ditempatkan tentunya berlawanan dengan area support resistancenya dengan memperhatikan manajemen resiko yang anda tolerir. Gambar selanjutnya akan memperjelas keterangan ini.

    Gradual Moves
    Dalam pic di bawah ini anda dapat melihat bagaimana area demand secara gradual berubah menjadi area supply.


Area yang di arsir dengan warna biru menunjukan identifikasi awal dan dengan bantuan 2 garis datar kita tahu bahwa ini area demand dimana dari sinilah harga bertolak naik sebelumnya. Kemudian berdasarkan pengamatan visual, kita mengetahui bahwa harga kembali turun dan konsolidasi sesaat (circle warna aqua). Dari sini mulai sederet perubahan secara bertahap yang menandakan demand berubah menjadi supply:
  • Breakout (A), awal dari perubahan tersebut
  • Pullback (B1, B2, C), retest yang makin penguatan terjadinya perubahan dan mengkonfirmasi bahwa area yang diarsir warna magenta sekarang adalah area supply.
Entry untuk contoh di atas dapat dilakukan pada:
  • A, breakout entry untuk sell
  • B1 dan B2, pullback entry untuk sell
  • C, pullback entry untuk sell. Khususnya point C, ini terjadi gap down, nanti kita coba bahas pemahaman Gap Pemula vs Gap Profesional.
TP adalah next level support atau resistance dengan profit zone yang memadai atau cukup lebar. Jika chart anda tidak menunjukan adanya next level ini, coba zoom out dan selalu lihat kiri, seperti contoh di bawah ini:


Saturday, December 24, 2011

Classic Patterns Dalam Prespektif Yang Berbeda

Kita sudah dengar dan mungkin mengenal pola-pola seperti Triangles, Flags, Pennants, The Cup and Handle, The Head and Shoulders, dan lain sebaginya. Nah sebelum anda mengambil keputusan buy atau sell, sebaiknya kalkulasi "profit margin" untuk memastikan ada ruang bagi harga untuk terus bergerak setelah entry. Mari lihat beberapa contoh berikut:


Walaupun pola ini terlihat hampir sempurna, apakah kita akan ambil posisi atau tidak, tergantung pada profit marginnya. Cermati dimana letak support (demand) jika kita entry short setelah breakdown dari bottom triangle. Pada pic terlihat ada ruang yang cukup untuk target support pertama dan masih ada sedikit ruang bagi target support kedua. Dalam contoh ini, entry short dari breakdown triangle, adalah keputusan yang baik dan valid. Jika saja support berdekatan dengan bottom triangle, besar kemungkinan trade short akan gagal.


Sekali lagi ini pola descending triangle. Bedanya adalah line of support agak berdekatan dengan bottom triangle yang artinya bahwa pilihan untuk short menjadi tidak ideal. Anda harus dapat mengkuantifikasi profit margin dengan cara menghitung jarak baik support (demand) atau resistance (supply) dari titik entry secara objektif.


Ini adalah pola Bear Pennant yang cukup populer. Disini terlihat bahwa profit margin cukup memadai, ingat bahwa pebisnis selalu menghitung profit margin sebelum launching atau menjual barang dagangannya. Perhatikan bahwa harga hanya sebentar dalam pennant, this is a good sign. Bear Pennant atau descending triangle disebut sebagai pola kontinuasi. Jadi besar kemungkinan harga turun, dan tugas kita menghitung potensi profit yang ada.
Sesempurna apapun suatu pola/formasi candle namun jika tetap menghasilkan trade yang gagal, kemungkinan besar hal itu terjadi karena breakout tepat menghantam level support atau resistance.

Gunakan Pola Chart Dengan Benar

Trader yang baik, bisa saja menggunkan pola-pola chart ini, namun mereka menggunakannya dengan cara yang berbeda dan selalu mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. "Hmm jika saya ingin jual dengan tujuan profit yakni beli kembali pada harga yang lebih rendah, mengapa tidak sell pada salah satu Head atau Shouldernya?" Karena logikanya disitulah resistance atau area supply berada.
Contoh lain Cup and Handle. Pernah berpikir mengapa bottom dari Cup ini terbentuk?????? Tebak saja, dan jika jawabannya adalah karena itu area support (demand), maka anda benar. Itulah area low risk/high reward entry untuk pola ini, bukannya setelah breakout atau setelah akumulasi berlangsung, dimana orang lain akan ikut-ikutan beli pada level harga yang lebih tinggi. Biarkan orang lain membeli saat breakout dan menjual saat breakdown kapanpun yang mereka mau seperti yang ditunjukan oleh pola-pola klasik ini. Mereka akan selalu membayar lebih mahal kepada kita yang telah masuk ke pasar dengan resiko entry lebih rendah. Trader yang baik akan selalu berusaha sell sejauh mungkin dari area support dibawahnya karena jarak ini adalah "profit margin" nya. Dan ia akan berusaha semaksimal mungkin mencari posisi sell dekat area resistance (supply), karena itu satu-satunya cara untuk mengurangi resiko. Sebaliknya demikian juga untuk long atau buy.

Cara sederhana jika setiap kali anda menemukan pola-pola klasik ini pada chart, pastikan anda selalu melihat ke sebelah kiri chart. Jika anda melihat pola H&S, dan harga terlihat akan menembus ke bawah neckline, sebelum ambil keputusan sell pastikan bahwa tidak ada area congestion atau konsolidasi demand dekat dibawahnya. Jika ada, lupakan signal sell ini karena kemungkinan besar trade ini akan gagal. Jika breakdown, dan area congestion demand masih agak jauh di bawahnya, silahkan sell karena ada ruang untuk harga bergerak turun. Jika anda lihat pola Bull Flag, pastikan bahwa resistance (supply) masih jauh di atas, sehingga harga memiliki ruang untuk terus bergerak naik setelah anda beli. Menggunakan cara sederhana ini akan membedakan anda dari kumpulan orang banyak (herd/crowd) dan akan membawa anda lebih dekat kepada cara-cara profesional melakukan trade.

Friday, December 23, 2011

Intra-Days Rules

Intra-day trader sebaiknya memiliki pola aturan dalam mengambil keputusan trading. Karena biasanya faktor emosi dapat mempengaruhi analisa dan keputusan trade. Tidak percaya? coba trade gunakan tick chart atau time frame 1 menit, sangat intens bukan? terasa bagaimana adrenalin anda dipacu every second every minute. Kegagalan mengkontrol emosi berujung pada kegagalan trade. Jadi dengan mengikuti aturan yang sudah di set, anda dapat mengelola trade dengan baik.

Rule sederhana bagi day trader:
  1. Tiap hari, identifikasi satu area supply dan satu area demand pada time frame H1. Selalu perhatilan posisi harga ini berbanding dengan time frame yang lebih besar (D1)
  2. Entry hanya dilakukan jika harga masuk/mendekati support (demand) atau resistance (supply)
  3. Ada 2 jenis entry, breakout dan pullback (lihat gambar)
  4. Pre-plan: entry, stop loss, dan target
  5. OP dilakukan hanya jika terdapat ruang yang cukup lebar antara area supply dan area demand, sehingga profit zone menjadi atraktif



Hanya 2 jenis entry ini saja yang kita perlukan. Entry pada pullback pertama menawarkan lower risk/high reward, walau untuk sebagian orang hal ini dianggap masih beresiko tinggi. Sementara breakout adalah yang paling populer sebagai entry. Namun yang lebih penting lagi adalah profit zone, hitung seberapa besar ruang untuk harga bergerak setelah entry dilakukan.

Thursday, December 22, 2011

Simple Strategi

Seorang trader sebaiknya secara konsisten identifikasi area dimana harga kemungkinan berbalik arah (turning point). Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam memanfaatkan pergeseran ekuilibrium supply dan demand, yang juga dipicu oleh emosi manusia berupa Fear, Greed, dan Ketidakpastian.
Jika entry pada situasi reversal dilakukan seperti orang lain, maka kita hanya memiliki sedikit atau tidak punya keunggulan sama sekali dibanding mereka. Karenanya tidak salah kalau kita kesulitan untuk bertahan di market dan membuat profit yg konsisten. Oleh sebab itu, proses berpikir/analisa harus berujung pada antisipasi gerak harga harga dengan resiko yg minimal dan peluang paling besar. Layaknya nelayan yang menaikan layar, usakahan angin ada dibelakang perahu. Kita fokus dulu kepada sebuah strategi yang relatif mudah untuk dipahami,

Selling Setup
Kita gunakan chart dari posting sebelumnya, dimana Daily chart memperlihatkan bahwa harga bergerak naik mendekati dan masuk ke area Supply (resistance).


Simpel Strategi:
1. S/D area teridentifikasi pada TF daily (minimal H1).
2. Saat candle membuat high (A) pada daily chart, pindah ke intra-day time frame (M15 atau M5) untuk mencari peluang Sell/Short entry.
3. Pada TF kecil ini cari up candle terakhir yang disusul oleh down candle. (gambar bawah)
4. Entry dilakukan pada down candle kedua, dan tidak perlu menunggu close-nya (gambar bawah)
5. Penempatan SL sebaiknya di atas garis horisontal area S/D daily, jika anda tipikal intra-day di atas garis horisontal hourly.
6. TP tempatkan pada area Demand (support) berikutnya, atau gunakan risk reward rasio minimal 2:1


TF M15


TF M5

Apa yang menyebabkan terjadinya reversal candle? pastinya bukan kerjaan trader profesional. Aksi beli yang dilakukan ini umumnya trader pemula setelah harga bergerak naik cukup jauh, beresiko tinggi dan ini adalah kesalahan pertama. Kesalahan kedua adalah membeli pada level yang dekat dengan area supply dimana lebih banyak seller bersedia jual, seperti yg ditunjukan pada TF daily, artinya peluang sukses kecil. Sebagai trader, kita tidak mencari kepastian, namun hanya mencari probabilitas yang lebih baik.
Perhatikan bahwa closing candle (A) pada daily chart adalah reversal candle yang mengundang lebih banyak trader untuk masuk short keesokan harinya.
Konfirmasi daily reversal yang biasanya ditunggu-tunggu oleh sebagian besar trader menjadi valid, dan umumnya mereka akan merasa nyaman short/sell pada titik ini. Hal inilah yang kita inginkan, dan semakin diperlihatkan saat candle (B) mengindikasikan bahwa mereka masuk dengan kekuatan penuh (full force). Dengan kata lain, kita adalah bagian dari pengundang orang untuk masuk, bukan sebagai tamu yang diundang. Lebih daripada itu, entry yang kita lakukan beresiko lebih rendah dari mereka yang short keesokan hari (B). Kesimpulannya, kita gunakan aksi trading short/sell massa di point B sebagai konfirmasi bahwa keputusan yang kita buat benar adanya. Kalaupun salah, kita exit dengan resiko rugi yang kecil.

Wednesday, December 21, 2011

Back to Basic

Mungkin anda ingat dua orang tokoh yang namanya sering disebut dalam disiplin ilmu ekonomi dan fisika. Yang pertama Adam Smith, pelopor ilmu ekonomi modern sekaligus pelopor sistem ekonomi kapitalisme. Ia telah menyatakan ratusan tahun lalu bahwa jika supply melebihi demand pada suatu level harga tertentu, harga akan turun, dan sebaliknya. Sementara yang kedua adalah Sir Isaac Newton yang dalam hukum geraknya menyatakan bahwa sebuah objek akan tetap dalam aksi gerak (motion) sampai mendapat reaksi kekuatan (force) yang sama atau lebih besar. Lebih sering disebut Aksi dan Reaksi saja. Kedua contoh sederhana namun brilian ini telah teruji sepanjang masa dan secara langsung merupakan faktor utama dalam pergerakan harga di pasar yang kita trading dan terlibat di dalamnya saat ini. Jika saja mereka memilih karir sebagai trader, bisa jadi mereka adalah trader-trader handal hehehe....

Fokus dari tulisan ini adalah tentang apa yang disebut dalam teknikal analisis konvensional sebagai support (demand) dan resistance (supply). Kita akan coba gali lebih dalam apa sebenarnya support dan resistance tersebut, bagaimana kita identifikasi dan kuantifikasinya pada chart, dan bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan objektif sehingga menghasilkan profitable trading.
Seorang trader harusnya memahami bahwa mekanisme market itu tidak lebih dan tidak beda dengan pasar-pasar lain yang kita ketahui. Entah pasar saham atau pasar ikan di Muara Angke, kita saksikan bagaimana hukum permintaan penawaran bekerja dengan faktor manusia yang terlibat didalamnya. Inilah pokok utama penggerak harga, dan peluang muncul ketika hubungan sederhana ini menjadi tidak seimbang. Jika saja kita bersedia observasi interaksi supply and demand yang selalu ada tiap saat, seharusnya proses identifikasi kapan harga akan berbalik arah tidaklah terlalu sulit.



Support (demand) adalah level harga dimana lebih banyak buyer yang bersedia membeli dibanding seller pada level harga tertentu. Resistance (supply) adalah dimana lebih banyak tersedia supply dibanding buyer yang bersedia membeli supply tersebut pada level harga tertentu. Coba perhatikan chart di bawah ini untuk indentifikasi apa yg dimaksud dengan Demand.



Area A menunjukan level harga dimana terjadi keseimbangan relatif atau ekuilibrium antara supply dan demand. Setiap orang yg ingin jual dan beli di level harga tersebut masih dalam batas-batas keseimbangan, dan harga pun relatif stabil. Pada closing candle (B), hubungan supply dan demand telah bergeser dan tidak lagi seimbang. Sekarang kita tahu bahwa lebih banyak demand pada level harga A dibanding supply yang tersedia. Dari mana kita tahu kalau ini benar adanya? Satu-satunya yang menyebabkan harga bergerak naik seperti yg dicontohkan adalah karena pergeseran hubungan suppy/demand. Pada closing candle B, kita juga dapat simpulkan bahwa ada buyer-buyer yg bersedia beli di level A tersebut namun tertinggal karena harga sudah bergerak naik. Area A ini skarang dapat kita sebut secara objektif sebagai demand (support) area. Label C menunjukan adanya penurunan harga yang kembali ke level demand ini. Dan disinilah kita mendapat peluang low risk high reward trade karena harga kembali ke area yang sebelumnya telah menunjukan dominasi buyer. Nanti kita bahas bagaimana cara memanfaatkan peluang ini.
Kemudian kita dapat identifikasi supply (resistance) dengan cara membalik logika contoh di atas tersebut.


Identifikasi level harga true demand (support) and supply (resistance) ini mungkin adalah keputusan trading yg paling rumit (complicated). Khususnya, dimana kira2 harga mungkin akan balik arah (turning point) dan mengapa balik arah. Untuk itu definisi demand and supply yang sudah saya sebutkan di atas adalah satu-satunya informasi yang kita perlukan. Adam Smith membuatnya sederhana,logis dan nyata. Jika teorinya diaplikasikan ke market, semuanya jadi gamblang.
Kenyataannya satu-satunya informasi objektif yg tersedia adalah harga dan volume. Yg lain hanyalah turunan (derivatif) dari harga dan volume, jadi mengapa tidak langsung ke sumbernya? Kita sudah banyak baca buku dan dengar para komentator finansial bicara tentang moving averages, fibonacci retracement, dan lain sebagainya sebagai demand (support) dan supply (resistance). Ini ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar. Semua indikator atau oscillator yg disebut sebagai alat bantu (tools) dalam identifikasi support/resistance hanyalah tools untuk menunjukan kondisi tertentu tools tersebut, bukan menunjukan supply dan demand sebenarnya. Tools ini bekerja hanya jika dalam kondisi yg persis sama dengan level supply/demand pada chart. Bisakah anda bayangkan kalau direktur keuangan microsoft yang saham nya listed di NYSE atau fund manager nya George Soros berbicara tentang oscillator atau pola candle head and shoulder? kecil kemungkinannya.
Saya tidak antipati pada penggunaan indikator, sama sekali tidak. Malah hal ini adalah wujud kreatifitas dalam mensiasati keterbatasan utamanya retail trader. Tetapi saya mengingatkan bahwa indikator2 tersebut adalah hanya alat bantu, jangan terpaku pada alat bantu. Datangi sumbernya yakni harga dan volume. Contoh ibu-ibu kita yang kalo mau belanja sebagus apapun barang yang diinginkan, yang paling sering muncul pertama kali adalah kata-kata "berapa harganya?" dan kita biasanya juga demikian dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang menggunakan indi-indi proses analisanya jangan terbalik, bukan dimulai dari indi baru harga, namun harga dulu baru indi. Saya yakin banyak pemula yang lebih mengamati indikator dibanding harga itu sendiri, sehingga sering terpaku atau malah terpana pada indi2nya. Karena itu judul posting ini back to basic, mari kita coba kembali memahami mekanisme pasar itu sendiri.

Tuesday, December 20, 2011

Intro to Foreign Currencies

Ada dua medium utama dalam trading Currency ( Mata Uag ). Pertama adalah Future market sementara yang kedua adalah cash spot market atau yang lebih di kenal dengan FOREX.


Walaupun keduanya mewakili pasar yg sama dan geraknya tidak akan jauh satu sama lain, namun terdapat perbedaan-perbedaan. Salah satunya adalah bahwa future ini diperdagangkan pada exchange/bursa semacam Chicago Mercantile Exchange (CME), Intercontinental Exchange (ICE), Tokyo Financial Exchange (TFX) dan Euronext.

Hal mendasar bagi pemula adalah mengetahui bagaimana dan mengapa harga ini bergerak. Karenanya penting dipahami bahwa harga bergerak tidak lain hanya karena fungsi serta akibat dari Hukum Penawaran dan Permintaan (Supply and Demand), bukan karena hal lain. Harga bergerak hanya dan hanya jika perhitungan sederhana ini menjadi tidak seimbang. Anggap saja perdagangan mata uang ini tidak jauh beda dengan perdagangan di pasar2 tradisional kita, harga bawang, misalnya, akan melonjak naik karena berkurangnya pasokan dari Brebes. Atau karena mendekati hari-hari besar permintaan melonjak, jadi jangan heran kalo ibu-ibu ngomel karena harga ayam naik di pasar2. Hal ini hampir sama saja dengan perdagangan mata uang, hanya beda skala dan medium saja. Karenanya mindset yang paling awal dimiliki oleh seorang trader, adalah mindset pedagang yang berdagang karena adanya permintaan dan penawaran.


Sebagai contoh coba kita kuantifikasi demand (support) pada chart di atas. Sejak harga berkonsolidasi/sideways, seorang trader dapat berasumsi bahwa supply and demand berada dalam keseimbangan di level harga 1.0300. The truth is tidak pernah terjadi keseimbangan dalam harga yang fixed. Hanya butuh waktu (sedikit atau banyak) ketidakseimbangan akan terjadi. Ketika harga mulai rally dari demand level (di antara garis merah), kita tahu bahwa lebih banyak buyer (pembeli) yang bersedia membayar pada kisaran level tersebut. Karenanya, jika dan ketika harga kembali mengunjungi level ini tentunya kita sebaiknya bersiap ambil posisi buyer. Ketika beli, sesungguhnya kita beli dari orang yang jual setelah terjadi penurunan harga dan pada level kisaran harga dimana demand melebihi supply.

Ini bukan hal mudah! Trading berdasarkan hukum dan prinsip supply and demand akan menguji emosi sampai ke dalam tulang badan anda. Seperti bisa dilihat pada gambar di bawah ini, bahwa harga jatuh/drop kembali pada low risk/high reward dimulai dengan red candle atau berita buruk yang mendorong massa atau banyak orang ikut partisipasi jual. Namun seorang trader yang cerdas/smart mengetahui, bahwa bagaimanapun juga begitu seller terakhir sudah melepas order pada level harga dimana Demand > Supply, maka harga akan kembali bergerak naik.


Monday, December 19, 2011

Appetizer

Ada sebuah slogan "Once a Dealer Always a Dealer" yg ternyata benar berlaku. Trading dapat mendarah daging dalam diri seseorang, saya sekarang menikmati trading dari rumah sebagaimana saya menikmatinya sewaktu masih menjadi bagian dari profesional trader bank.
Enough said, dalam thread ini saya coba membahas beberapa hal terkait dengan mekanisme trading yang menopang kesuksesan berkarir sebagai trader,yakni:
1. Teknikal analisis
Disini pokok bahasan akan lebih banyak kepada hal medasar yang banyak dilupakan orang yang terjun dalam bisinis ini, yakni sistem trading berdasarkan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand)
Keterkaitan antara berbagai market yang ada saat ini dan forex market adalah salah satu bagian dari pasar finansial secara keseluruhan.
Kemudian saya berusaha setidaknya (mungkin tiap akhir pekan) untuk memasukan faktor2 semacam Fundamental analisis, Psikologi trading, dan Manajemen Resiko dalam pembahasan. Jadi walaupun simpel tapi kita dapat memiliki pondasi yang mumpuni sebagai trader.

Jika anda telah memutuskan untuk memilih karir sebagai trader sebaiknya anda mengetahui, bahwa anda telah memilih pekerjaan yg sangat menantang tapi memberi reward yg luar biasa. Dan sebaiknya mulai menyadari bahwa anda tengah berkompetisi tidak hanya dengan sesama retail trader namun yg lebih kompeten adalah melawan the biggest, brightest,most greedy minds in the world. Mereka ini (bank investasi/bank korporat/Hedge Fund) kita sebut saja big boys memiliki kemampuan/sumber daya untuk selalu berada dalam pasar dimana anda sudah tidak berdaya alias out of the game.
Mereka adalah predator dalam lautan investasi internasional,sebut saja nama2 semacam Deutsche Bank, Credit Suisse, Citi Bank, JP Morgan Chase Bank, Union Bank Of Switzerland, ING Bank, Sumitomo Mitsui Banking Corp, Barclays Bank England dan lain sebagainya.

Lihat pic2 dibawah ini sebagai appetizer, jadi anda dapat gambaran what the real world of financial is....

Ini adalah bank investasi UBS yg trading floor nya memiliki 1400 seat terdiri dari 4 bagian yakni fixed income, komoditi, saham, dan currency trader. Trading floor UBS adalah salah satu yg terbesar kalau tidak mau disebut yg terbesar di dunia. JP Morgan di NY trading floor nya hampir seukuran lapangan bola dan memiliki cabang hampir di seluruh dunia. Ada sebuah anekdot trader: "Saya punya sekantong batu dan yang saya lawan adalah mereka ini yg punya senjata nuklir ditangannya."


Gambar di atas adalah trading room CitiBank London.


Gambar di atas adalah trading floor Knight Capital berisi sekitar 300-an seat, salah satu market maker yang jadi acuan para trader institusi lainnya.