Showing posts with label Trade Your Plan. Show all posts
Showing posts with label Trade Your Plan. Show all posts

Tuesday, January 3, 2012

Little Story

Alkisah dahulu kala ada sebuah desa di kaki gunung yang dilanda banjir. Saat para penduduk desa sedang terlelap tidur, perlahan air mulai menggenangi wilayah tersebut. Begitu mengetahui kedatangan banjir, para penduduk mulai bergegas mengungsi ke daerah yang lebih aman. Hampir semua warga desa mengungsi, kecuali satu pria tua yang memilih bertahan.
Pria ini kemudian memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa:
"Ya Tuhanku, Engkau yang Maha Perkasa, Engkau Maha Penolong dan Pengampun....
Hamba mohon pertolongan Mu wahai Tuhanku....
Hamba telah ampuni orang-orang yang menyakiti hamba, karenanya hamba mohon ampunanMU, tolonglah hambaMu ini yang tua renta.."

Karena air mulai meninggi si pria tua ini naik ke atap rumah. Tak lama kemudian datang orang dengan sampan kecil, dan bermaksud menolong pak tua ini. Namun pak tua menolak permintaan orang itu. Tak lama datang lagi perahu penyelamat dari tim SAR, lagi-lagi pak tua menolaknya. Hingga pada akhirnya datang helikopter untuk menyelamatkannya, tetap saja pak tua menolaknya karena beliau yakin Tuhan akan datang menolongnya. Air makin meninggi dan tak lama kemudian pak tua mati tenggelam.


Di akhirat pak tua ini berjumpa dengan Tuhan dan bertanya: "Wahai Tuhanku, aku telah berdoa agar engkau menyelamatkan ku, namun mengapa Engkau tidak menjawab permohonanku?" Tuhan menjawab: "Aku terenyuh mendengar doa mu, karenanya Aku kirimkan orang dalam sampan untuk menolongmu, tapi engkau abaikan. Aku kirimkan lagi pasukan lebih besar dengan perahu SAR, karena mungkin engkau ingin yang lebih aman, lagi-lagi engkau abaikan. Terakhir Aku kirimkan helikopter karena mungkin engkau takut dengan perahu, sayangnya masih engkau abaikan. Bukannya Aku tidak menolongmu, tapi engkau tidak membantu dirimu sendiri"

Nah saya ingin bertanya, apa korelasi cerita di atas dengan aktivitas trading sehari-hari? bisakah anda deskripsikan dengan cukup satu kata saja?




Jawabannya dalam satu kata adalah "HOPE" atau "HARAPAN". Disamping Fear dan Greed, Hope dapat menjadi musuh terburuk kita dalam trading, your worst enemy, your worst nightmare. Industri trading forex ini berbaju "harapan", dan harapan ini pula yang menyelimuti pikiran bawah sadar sebagian besar pelakunya. Sejak anda berkenalan dengan forex (spot) market, anda telah dibombardir dengan sejuta harapan. Penyedia jasa (broker/analyst/komentator dll) benar-benar memanfaatkan hal ini dengan berbagai propaganda marketing, bagi kepentingan bisnis mereka. Yang paling konyol adalah seringnya kita dengar iming-iming bahwa forex adalah jalur cepat menuju kekayaan. Don't Believe The Hype...Just Don't!!! ini adalah ilusi yang tidak mendasar sama sekali. Justru sebaliknya, trading forex adalah ladang pembantaian terutama bagi trader retail pemula dan ini adalah realitas.. Di permukaan terlihat trading ini tenang menghanyutkan, "cool" bagi sebagian orang. Tapi di bawahnya, pembantaian itu berlangsung. Yang tersisa hanya nomor-nomor account, jangan sampai anda mengikuti jejak mereka. Pelaku industri tidak akan berbicara hal ini, mereka memiliki kepentingan bisnis, dan itu wajar saja. Yang sering muncul adalah propaganda pemasaran "Imagine this....Imagine that"

Harapan-harapan macam ini (ilusi) yang pada akhirnya mempengaruhi aktivitas trading seseorang. Saya beri dua contoh praktis:
  1. Bagaimana saat anda dalam posisi yang tidak menguntungkan (adverse position), kata harapan adalah menu utama yang selalu muncul "moga-moga balik nih harga" atau "ntar juga balik naik, mosok turun mulu"
  2. Keraguan dalam mengambil keputusan yang timbul karena harapan. Sering kali kita dengar sebagian trader mengucapkan "turun dikit aja, saya ambil buy dah", harga sudah turun sedikit (market lagi baik hati hahaha..) misalnya, dia akan ucap "ntar dulu, dikit lagi". Sampai akhirnya batal entry, karena harga telah balik arah dan meninggalkannya waiting and waiting........

Bro/sis, kita trading berdasarkan kerangka set rule yang objektif, not based on hope. Jangan hancurkan hari-hari trading anda dengan terlalu banyak berharap. Boleh saja anda memiliki harapan, tapi saat trading keputusan yang diambil harus jernih dan ada parameternya. Anda tetapkan entry dengan objektif demikian pula penempatan stop loss atau profit margin nya. Karena itu miliki dan buat trade plan yang baik, setidaknya hal ini dapat mengeliminasi faktor emosi yang sering mempengaruhi kita saat trading. Saran saya anda siapkan trade plan sebelum kegiatan trading berjalan, jangan anda buat planning saat trading sedang berlangsung. Pagi hari saya pikir waktu yang baik untuk kita membuat rencana kerja, bagi yang muslim setelah sholat shubuh adalah saat yang pas karena pikiran masih jernih.

Malam harinya anda dapat mereview ulang seluruh aktivitas trading, apakah sudah sesuai rencana atau justru trade plan nya yang mesti direvisi. Dengan cara ini, sedikit demi sedikit anda akan terbiasa trading secara mekanis tidak terpengaruh oleh hal-hal yang membuyarkan proses pengambilan keputusan.

Monday, January 2, 2012

Jawaban penggunaan indicator

Setelah pembahasan mengenai Indikator : Give me a break.. , Sekarang mari kita cari solusi dari penggunan indikator secara tepat.


Pada gambar diatas MA 20 dapat kita gunakan dengan cara yang benar yakni setelah anda identifikasi area S/D maka kita cermati apakah MA selaras menunjukan perubahan slope pada area tersebut. Dalam contoh, kita tahu harga bergerak "out of balance" dari circle magenta. Saat turun mengunjungi starting point tersebut (arsir rectangle) opsi buy adalah preferensi utama, dan hal ini diperkuat saat slope MA menunjukan perubahan pointing up. Dalam situasi macam ini, pada point "A" anda akan mendapatkan peluang buy yang relatif aman dan potensial untuk profitable.


Chart di atas menunjukan area demand dan window indikator CCI. Fluktuasi antara overbought dan oversold yang banyak ditunjukan CCI, dapat anda abaikan. Namun perhatikan saat HARGA turun mengunjungi kembali level demand dan CCI menunjukan kondisi oversold, ini adalah signal buy. Rule semacam ini berlaku bukan hanya pada trading forex saja, namun pada market apapun.


Sekali lagi kita lihat banyak reading overbought/oversold yang diberikan oleh CCI. Ini tidak salah, karena memang indikator ini hanya menjalankan fungsinya semata. Apakah singnal yang diberikan profitable, itu perkara lain. Perhatikan saat harga drop dari supply area, CCI pun langsung menuju ke kondisi oversold dan tetap oversold untuk periode tertentu, yang bagi sebagian trader ini adalah buy signal. Sekali lagi, jika anda menggunakan oscillator seperti CCI yang menunjukan OB/OS sebagai filter, maka tempatkan pada porsi yang tepat. Lihat pada saat harga pullback menuju area supply dan CCI memberikan reading overbought, ini adalah signal sell yang harus dicermati.

Friday, December 30, 2011

Indicator : Give me a break...

Kita semua tahu emosi dapat menghancurkan karir trading anda. Seringkali, keputusan yang didasari emosi akan sulit membuat trader bertahan melewati tahun pertamanya di dunia trading. Tapi ada kambing hitam lain yang juga berperan dalam mempersingkat umur karir trading ini, yakni kesalahan dalam memahami pengunaan (misuse) indikator. Kasian banget dah nasib si kambing....

Pahami bahwa gerak harga pada semua pasar bebas adalah fungsi dari hukum/prinsip supply dan demand. Peluang (opportunity) muncul tatkala perhitungan sederhana ini menjadi tidak seimbang. Semakin besar imbalances, makin besar peluang yang ada. Sebaik apapun strategi yang dimiliki jika mengabaikan fungsi dasar ini, maka bersiap untuk mengepak koper cari pintu keluar. Bisa saja anda habiskan waktu berhari-hari mencari kombinasi indikator yang oleh banyak orang disebut "holy grail" untuk menggapai cita-cita menuju kekayaan/kesuksesan, tapi pada akhirnya anda kembali ke titik nol. Ada alasan mengapa orang melakukan hal ini, yakni THEY HAVE NO IDEA alias tidak tahu bahwa proses permintaan penawaran selalu terjadi tiap detik pada tiap level harga. Indikator-indikator yang pasti adalah turunan dari harga, sudah semestinya lagging. Dan tiap lagging indikator akan menambah resiko dan mengurangi potensi profit margin. Orang betawi bilang: "kemane aje lu? Nyak Babe lu dah kemane-mane..elu nya baru nongol". Jangan salah paham, saya tidak bermaksud berdebat tentang indikator, tapi mari kita letakan penggunaannya pada porsi yang tepat.


Gambar di atas adalah chart dengan MA 20 dan 200, kedua MA ini adalah averages yang umum digunakan kalangan investor. Perhatikan slope dari MA 20 pada area B. Disini slope-nya menunjukan arah turun yang menandakan downtrend sedang berlangsung. Namun pada saat itu, dihadapan anda terpampang jelas peluang buying low risk/high reward karena pada point "B", harga mengunjungi kembali area objektif demand yang sudah ditunjukan oleh point "A".

Mereka yang menggunakan MA sebagai trend filter akan berpikir dua kali untuk melakukan aksi beli saat trend "down". Kelompok trader/investor yang terilusi ini akan mengatakan "saya tidak mau beli sekarang karena trend menunjukan penurunan". Ilusi yang terbentuk karena hanya menggunakan MA sebagai penentu trend akan membuat anda mengabaikan peluang buy (sell) low risk/high reward yang muncul tiap saat. Malahan ilusi ini akan mendorong trader untuk mengambil keputusan berlawanan dari realita informasi objektif yang disampaikan harga.

Moving averages lag karena ia mengambil past data. Ia hanya akan bergerak naik setelah harga naik. Coba kita fokus ke MA 200, khususnya area "B" di bawah MA 200. Mayoritas trader/investor menganggap MA 200 sebagai "garis mistis" karena kebanyakan expert/guru/komentator di TV menggunakannya sebagai acuan. Seperti yang kita lihat, menunggu harga naik di atas MA 200 sebelum melakukan aksi beli bermakna tiga hal:
  1. Resiko untuk beli menjadi tinggi, karena orang yang beli ini melakukannya jauh di atas area demand (point "A")
  2. Potensi profit menurun
  3. Mereka yang menunggu beli saat harga menanjak di atas MA 200, besar kemungkinannya justru adalah sumber profit bagi trader/investor yang realistis beli pada demand level "B"
Pergeseran ketidakseimbangan supply/demand dimulai dari point "A", dan ini tidak ada urusannya dengan MA 200. Menganggap bahwa moving averages sebagai leading the price adalah ilusi belaka. Bisa saja MA bekerja dengan baik, jika dan hanya jika ia selaras dengan supply/demand.

Coba kita lihat dengan kacamata logis yang objektif. Area "A" secara objektif adalah level support (demand). Bagaimana saya dapat katakan bahwa ini adalah support secara objektif? Sederhana, saat harga sideway, supply/demand dalam keadaan balance. Pada contoh di atas, harga melonjak naik dari area keseimbangan ini. Satu-satunya penyebab yang membuat harga rally dari area "balance" adalah jika perhitungan supply dan demand menjadi "out of balance". Dengan kata lain, terdapat lebih banyak buyer yang bersedia dan sanggup beli dibanding seller pada point "A"

Area "B" menunjukan saat pertama kali harga mengunjungi kembali starting point nya. Dengan kata lain, harga turun menuju area yang secara objektif terdapat lebih banyak buyer ketimbang seller. "B" menunjukan area buying low risk/high reward dan ini memberikan anda tiga hal, yakni:
  1. Protective stop akan menjadi lebih kecil pula karena resiko yang diambil lebih kecil
  2. Potensi profit yang diukur dari jarak entry ke area supply diatasnya menjadi lebih besar
  3. Probabilitas keberhasilannya lebih tinggi karena harga berada pada level yang relatif lebih aman.

Thursday, December 29, 2011

Overbought/Oversold...?

Market bekerja agar harga sesuai dengan permintaan dan penawaran. Jika harga hampir selalu sama dengan demand, bagaimana mungkin harga dikatakan overbought atau oversold? Mungkin saja harga menjadi mahal, tetapi kata "mahal atau murah" adalah relatif. Sebagai contoh, katakan anda membeli lukisan buatan pelukis tidak terkenal seharga satu juta rupiah. Minggu depan pelukis ini muncul dalam cover majalah seni dan karyanya mulai dikenal umum, sehingga lukisan yang anda miliki sekarang bernilai 5 juta. Sebagian orang menganggap lukisan itu mahal, overbougt, karena nilainya melonjak drastis. Bagaimana jika kemudian seorang kolektor membeli lukisan yang sama dengan harga 10 juta? semua indikator akan mengatakan bahwa harga overbought karena naik tinggi dalam waktu singkat. Fakta sebenarnya adalah supply dan demand berada pada ekuilibrium baru -apapun alasannya-. Dalam pasar yang efisien walau tidak sempurna, tidak ada istilah overbought/oversold tersebut. Harga berada pada satu level karena memang ia harus berada pada level tersebut.


Dari sudut manapun anda melihatnya, market berjalan se efisien mungkin. Jika anda mendapatkan profit, di sisi lain ada yang mengalami kerugian. Jumlah supply dan demand yang terjadi disebut volume, dan ini adalah fakta. Baik harga dan volume adalah absolut dan fakta dari pasar, karena keduanya tidak terdistorsi. Justru indikator yang digunakan dalam analisa teknikal yang umumnya mendistorsi price dan volume. Kebanyakan kita dalam mengamati chart terutama jika menggunakan indikator lebih sering terfokus pada gerak indikator dibanding price action nya sendiri. Padahal sudah sangat jelas bahwa indikator adalah turunan baik dari harga dan volume. Analoginya adalah anda ingin menikah dengan indi dan hidup bahagia dengan miss indi. Langkah yang paling masuk akal adalah anda datang kepada orang tua miss indi untuk melamar anaknya. Anda akan bicara dengan emak (volume) dan bapaknya (price), barulah kalo mereka setuju, bro mendapat restu untuk menikahi si indi. Proses ini jangan dibalik, bakalan tidak direstui, boro-boro dapet berkah...hehehe.


Coba lihat pada chart berikut ini:



Perhatikan bagaimana kedua indikator baik stochastic dan RSI menunjukan signal memasuki area oversold (garis vertikal merah). Jika saja fokus pengamatan terpusat pada indikator, anda akan kehilangan momentum. Dan ini akan berdampak pada keraguan anda mengambil keputusan. Lihat saja pada titik dengan vertikal biru, anda akan makin bingung, harga sudah disebut "oversold", tapi terus turun. Jika sequence pengambilan keputusan didominasi indikator, saya yakin keputusan yang diambil akan banyak mengalami distorsi. Seorang pedagang akan mengedepankan akal sehatnya, saat ia melihat bahwa mulai terjadi pergeseran supply dan demand (pada chart breakdown dari dua garis datar) yang menyebabkan harga keluar dari kisaran sebelumnya. Jika pedagang HP nexian melihat harga mulai turun dari kisaran normal, ia tidak perlu larak-lirik ke segala penjuru, dan coba jual mahal. Sudah pasti ia akan menurunkan harga, apalagi stock banyak, mengikuti harga baru yang terbentuk daripada barang tidak laku.


Nah jika anda ingin menggunakan indikator, sebaiknya tempatkan indikator tersebut pada porsi yang sebenarnya. Yakni indikator menyesuaikan diri kepada harga, bukan sebaliknya. Perhatikan saat harga kembali turun dari upmoves sebelumnya yang dimulai dari garis vertikal merah, dan memasuki area S/D sebelumnya (vertikal biru), anda baru diijinkan (direstui) untuk melihat miss indi. Dan jika miss indi ternyata setuju (dalam hal ini overrsold), maka besar peluang anda untuk mendapatkan profit dengan melakukan pullback entry. Silahkan dikawini dan semoga menjadi keluarga yang bahagia (profitable) :)

Wednesday, December 28, 2011

GAP

Kita sering melihat terjadinya gap (jurang) pada market. Ada sedikit perbedaan antara spot (forex) market dan market lain semisal equity (saham). Pada equity market, karena karakteristiknya centralized market dan memiliki jam operasional tertentu, gap sering muncul pada saat opening bell sehari-hari. Sementara forex market yang beroperasional 24 jam, gap umumnya terjadi pada awal minggu atau minggu pertama awal bulan/tahun.


Gap Pemula



Pada uptrend, yang disebut gap pemula adalah gap up atau lonjakan harga dimana opening price melonjak di atas candle/bar high sebelumnya. Gap ini terjadi setelah strong rally berlangsung. Penyebabnya adalah aksi beli para pemula dimana para profesional justru menghindar untuk melakukan pembelian setelah harga naik dengan begitu kuat. Dan kecil kemungkinan mereka juga akan buying setelah gap up. Penyebab utama mengapa para pemula melakukan aksi beli, biasanya dipicu oleh berita-berita fundamental yang mungkin saja dipersepsikan good news untuk instrumen tertentu. Hukum supply dan demand akan membuat para pemula ini hampir selalu dalam posisi kalah jika mereka terus menerus melakukan hal semacam ini.



Tipikal dari gap up pemula adalah terjadi di sekitar area supply (resistance), yang menandakan akhir dari sebuah rally atau uptrend pada time frame yang diamati. Gap up seperti ini seringkali memicu dimulainya sebuah down trend. Perhatikan ilustrasi gambar berikut ini:



Demikian juga sebaliknya yang terjadi pada downtrend. Jika anda melihat gap down, sebaiknya waspada dikarenakan bahwa gap ini umumnya dipicu aksi jual pemula setelah harga mengalami penurunan (down trend). Gap down yang terjadi pada area demand (support) hampir selalu menandakan awal dari sebuah uptrend. Jika pada gap up di supply area, the pro mendapat kesempatan untuk distribusikan posisi short, maka pada gap down di demand area operator profesional akan mulai mengakumulasi posisi long. Coba kita lihat pada kasus AU dimana terjadi gap yang dapat menggambarkan tipe gap pemula pada awal tahun ini:

Terlihat AU melonjak pada pembukaan pasar (circle magenta 2), dan gap up yang terjadi adalah pada puncak area supply (resistance). Perhatikan juga bagaimana hingga beberapa hari setelahnya harga bergerak disekitar area ini saja. Inilah konsolidasi, dan kesempatan untuk operator pro melakukan distribusi short position. Jangan mengira bahwa setelah harga menyentuh resistance, maka ia harus turun. Tidak demikian mudah, apalagi jika kita melihat pada frame besar. Order-order institusi yang dalam jumlah besar tidak semudah itu dijalankan. Operator harus melakukan manuver agar seluruh order yang dimiliki pada area/level tertentu dapat di eksekusi. Hal ini dapat berlangsung beberapa hari malah beberapa minggu. Namun pada akhirnya, setelah proses distribusi berlangsung, harga akan bergeser keseimbangannya dan memulai proses downtrend. Seberapa jauh downtrend yang akan terjadi, semuanya tetap mengacu pada seberapa besar imbalances (ketidakseimbangan) yang terjadi. Walaupun untuk kepentingan kita trading, kita bisa saja memprediksi bahwa downtrend nya akan berlangsung hingga area demand berikutnya.

Gap Profesional.

Berbeda dengan gap yang diakibatkan aksi jua/beli pemula, para profesional justru melakukan hal berlawanan. Pada uptrend, terutama saat harga berada pada area supply (resistance), the pro akan melakukan aksi jual dalam jumlah besar hingga menyebabkan terjadinya gap down pada saat opening. Ini dilakukan dengan tujuan membuat pelaku pasar lainnya tidak memiliki kesempatan dalam mengambil posisi yang menguntungkan, sekaligus memicu stop loss para buyer yang umumnya adalah pemula. Kembali kita gunakan chart AU dan amati area circle magenta (1), inilah contoh gap pro:


Proses inipun sebalinya dapat terjadi saat down trend dimana harga berada pada area demand, kemudian gap up pada opening week.

Kesimpulan:
1. Jangan terburu-buru OP Buy saat gap up di area supply
2. Jangan terburu-buru OP Sell saat gap down di area demand
3. Analisa area S/D untuk mempersiapkan OP Buy jika gap up dari area demand.
4. Analisa area S/D untuk mempersiapkan OP Sell jika gap down dari area supply.

Tuesday, December 27, 2011

Plan Your Trade,Trade Your Plan

Gunanya perencanaan yang baik adalah anda dapat fokus kepada trade setup yang paling potensial dan aktraktif saja, dan itu berarti mengabaikan setup yang tidak profitable.

Trade Plan yang baik disamping memiliki kriteria-kriteria entry/TP/SL, juga sebaiknya berdasarkan seperangkat faktor pendukung. Kesemuanya ini kita akan kuantifikasi sehingga menghasilkan scoring sistem sebagai acuan keputusan trade. Faktor-faktor pendukung ini adalah:


1. Strenght

Dalam trading yang kita cari adalah probabilitas tinggi dalam tiap trade untuk menghasilkan profit. Disini kita cermati bagaimana perilaku harga saat meninggalkan area supply and demand nya. Apakah bergerak dengan strong moves? ataukah perlahan-lahan (gradual)?



2. Profit Margin

Disinilah kita bicara mengenai risk reward atau untung ruginya dalam mengambil sebuah posisi. Anda harus dapat mengukur sejauh mana level support (demand) dan level resistance (supply) berbanding posisi entry. Anda ukur penempatan SL dari point entry dan kemudian ukur juga jarak profit margin dari titik entry tersebut. Katakan anda ingin ambil posisi buy, semakin jauh jarak area supply, kualitas entry makin baik dan semakin baik pula risk rewardnya.



3. Big Picture

Walaupun anda seorang intra day trader dan menggunakan time frame kecil semisal H1 atau yang di bawahnya, anda harus mempertimbangkan area-area supply demand pada time frame yang lebih besar seperti D1. Contohnya jika anda ingin short position, upayakan agar short anda lebih dekat ke area supply di daily frame atau area demand di daily masih berjarak cukup jauh di bawahnya sehingga memberikan ruang bagi harga bergerak sekiranya analisa kita benar.



4. Retracement

Yang dimaksud dengan retracement disini adalah harga yang kembali ke area support/resistance setelah breakout dengan kata lain pullback. Ini berkaitan dengan entry yang akan dilakukan. Menurut saya first pullback adalah yang terbaik dibanding dengan pullback kedua atau ketiga seperti yang ditulis dalam literatur-literatur trading. Kenapa? ibarat orang sedang menebang pohon saja, semakin sering diayunkan kampak, semakin besar kemungkinan pohon itu tumbang. Begitu juga dalam pullback ini, semakin sering suatu area ditest, semakin kecil kemungkinan area tersebut bertahan dari gempuran harga.



5. Time

Berapa lama waktu yang dibutuhkan harga dalam posisi ekuilibrium ini sebelum breakout. Semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk keluar/bergeser dari keseimbangannya, makin jelas bagi kita bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara supply dan demand.



6. Arrival

Apakah harga saat ini berada pada "fresh" support (demand) / resistance (supply)? Contohnya dalam upmove/uptrend, suatu level demand yang belum pernah di retest menjanjikan peluang yang lebih besar bagi profitable trade.



Keseluruh faktor di atas ini diberi nilai, dan makin tinggi scoringnya makin baik setup yang ada. Di bawah ini saya lampirkan tools dalam bentuk excel file, yang semoga membantu anda dalam menyiapkan trade plan. Seperti yang anda lihat, kriteria-kriteria sederhana ini akan dapat membuat perbedaan dalam kualitas trading. Pastikan bahwa anda memiliki satu set rule yang mendukung keputusan trading. Karena jika tidak, maka anda akan bersaing dengan mereka yang memiliki set rule dan kecil peluang anda memenangi peperangan ini.


Silahkan download TradPlan disini. Tradeplan.excell2003